Latest Entries »

Melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi (baik di dalam maupun di luar negeri) merupakan impian banyak orang. Banyak yang mempersiapkan segala sesuatunya agar impian tersebut berhasil, salah satunya adalah mempersiapkan kemampuan berbahasa inggris yang biasa diukur melalui test TOEFL (Test Of English as Foreign Language), IELTS, dsb. Di Indonesia sendiri, ada banyak lembaga pengajaran terkait hal ini dan tentunya butuh biaya yang cukup untuk mengikuti program-program pengajaran tersebut. Namun, bagi temen-temen yang ingin belajar TOEFL (khususnya) dengan cara yang mudah dan murah, temen-temen bisa membeli buku terkait TOEFL dan mempelajarinya secara otodidak. Ada banyak jenis buku terkait TOEFL, dan temen-temen cukup menyesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran, juga dengan keuangan yang ada. Dari beragam pencarian, ada salah satu site yang cukup mumpuni bagi temen2 yang ingin belajar TOEFL dgn cara yang mudah dan murah. Saya pikir ini cocok bagi pemula, juga bagi yang ingin mengulang-ulang pembelajaran dalam rangka persiapan test TOEFL (PBT khususnya). Link yang saya maksud adalah sbb:

Belajar TOEFL MUDAH dan MURAH

Silahkan dicek ya temen-temen, niatnya ngebantuin sekaligus promosi (gpp kn ya ^_^). Bagi yang bingung, khawatir, ragu, terkait postingan saya ini, silahkan langsung tanyakan aja via BBM sy (51D4AC5D) atau komen di postingan ini, akan saya bantu, InsyaAllah. Utk pembelajarannya TOEFL sendiri yang pasti ada banyak cara yang bisa temen-temen gunakan. Saya pribadi juga belajar dari beberapa sumber (belajar otodidak ceritanya), dan link yang saya berikan tersebut InsyaAllah cukup tepat buat temen-temen sekalian. Tidak hanya yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan ke level yang lebih tinggi, bagi pegawai di kepemerintahan dan perusahaan juga bisa memanfaatkan hal ini, karena TOEFL saat ini tidak hanya jadi syarat di bidang akademik namun juga di karir. Selamat mencoba, semoga bermanfaat. ^_^

Assalamualaykum tmn2, brikut sy sampaikan jadwal pendaftaran mahasiswa baru Sekolah Pascasarjana IPB tahun akademik 2015/2016.
Tahap 1: 26 Januari-30 April 2015
Tahap 2: 1Mei-15 Juli 2015
Utk selengkapnya silahkan cek di http://pmbpasca.ipb.ac.id

image

http://landarchs.com/10-great-places-study-landscape-architecture-asia/?fb_action_ids=10203555990683272%2C10204724468324644&fb_action_types=og.comments

Assalamualaikum wr wb.
Dikarenakan cukup banyak yang bertanya perihal Sinopsis Penelitian, berikut saya lampirkan sinopsis penelitian saya sebagai persyaratan/kelengkapan dokumen Pascasarjana IPB. Silahkan teman-teman download, dan perhatikan dengan seksama format isi secara keseluruhan. Diharapkan juga untuk berkomentar ataupun bertanya, dengan harapan dapat membangun komunikasi dan silaturrahim satu sama lain. Semangat buat semua 🙂

SINOPSIS PENELITIAN-Eduwin Eko Franjaya

http://myemail.constantcontact.com/LAF-Webinar–Practice-Based-Research—Join-us-Mar-20.html?soid=1109272168925&aid=keP0QaO2YVA.

Pembahasan tentang desain tidak terlepas dari pembahasan mengenai kualitas yang dihasilkan atau ditunjukkan oleh desain tersebut. Mendesain bukan hanya berarti membuat atau men-create suatu objek, namun mendesain juga berarti memberikan suatu pesan, makna, dan nilai tambah yang tidak hanya berpengaruh terhadap objek tersebut, namun juga berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya. Terkait dengan desain taman dan lanskap, suatu taman dan lanskap dikatakan memiliki kualitas yang baik ketika taman dan lanskap tersebut tidak hanya memiliki fungsi dan berfungsi sebagaimana seharusnya, namun juga memiliki pengaruh positif bagi lingkungan sekitar taman atau lanskap tersebut. Jika taman atau lanskap hanya memiliki fungsi, maka taman dan lanskap tersebut hanya bisa dikatakan berfungsi namun belum berarti berkualitas. Simonds dalam hal ini sangat menekankan perlunya desain yang memiliki kualitas yang baik. Tidak hanya memiliki fungsi, namun juga berkualitas. Sebagai contoh adalah taman bermain anak. Taman bermain anak yang berkualitas adalah taman bermain yang tidak hanya berfungsi sebagai arena bermain anak, namun juga sebagai arena pembelajaran dan pendidikan bagi anak.

Berbicara mengenai taman dan lanskap adalah sangat terkait dengan bidang profesi arsitektur lanskap. Benson dan Roe (2007) menyatakan bahwa bidang profesi ini sangat terkait dengan 3 hal utama, yakni estetika atau keindahan, sosial, dan lingkungan. Terkait estetika atau keindahan, seorang arsitek lanskap memiliki sebuah pandangan dalam menghasilkan lanskap yang memiliki nilai estetika. Hal ini berbanding lurus dengan kenyataan bahwa kualitas dari suatu lanskap seringnya diasosiasikan dengan nilai estetika yang tinggi (Bell S 1999). Terkait dengan sosial, aktivitas yang dilakukan oleh arsitek lanskap dalam bidang profesinya diharapkan dapat meningkatkan kualitas tempat tinggal manusia. Berkenaan dengan lingkungan, keberadaan arsitek lanskap diharapkan dapat mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungan yang hingga saat ini terus berkembang.

Lebih jauh lagi, Benson dan Roe (2007) menjelaskan bahwa desain yang berkualitas, termasuk desain taman dan lanskap, yang mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas tempat tinggal manusia, juga akan berkaitan dengan kualitas hidup manusianya. Dapat dikatakan bahwa kualitas tempat tinggal yang baik akan menghasilkan kualitas hidup yang baik pula. Terkait dengan kualitas hidup manusia, Benson dan Roe (2007) menambahkan bahwa terdapat beberapa point penting yakni, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan kemampuan mengekspresikan diri. Desain taman atau lanskap yang mampu memberikan pengaruh positif pada kesehatan manusia, pendidikan, sampai kepada kemampuan mengekspresikan diri, maka desain tersebut dikatakan berfungsi dan berkualitas. Pada sisi lain, Benson dan Roe (2007) menegaskan bahwa kualitas kehidupan manusia sangat dipengaruhi juga oleh kualitas lingkungannya. Kualitas lingkungan ini mencakup kualitas air, udara, dan tanah atau lahan. Pada pelaksanaan di lapang, para arsitek lanskap perlu mempertimbangkan aspek-aspek tersebut selain mempertimbangkan keinginan klien. Hal ini agar tercipta keseimbangan antara kualitas lingkungan dan kualitas hidup manusianya (Russ 2009). Sebagai contoh adalah kualitas air, yang jika kita kaitkan dengan desain taman dan lanskap, maka desain taman dan lanskap yang elemen di dalamnya (vegetasi dan lain-lain) mampu menjaga kualitas air, desain tersebut dikatakan berkualitas. Tentu hal ini membutuhkan pengetahuan mengenai proses ekologis serta pemilihan elemen yang tepat (van Mansvelt dan van der Lubbe 1999), namun justru disinilah letak kualitas suatu desain taman atau lanskap dapat dilihat. Pada akhirnya, kualitas desain taman atau lanskap yang baik akan menghasilkan kualitas tempat tinggal, kehidupan, dan lingkungan yang baik pula, dan hal ini berimbas pada suatu keadaan bersifat Sustainable, Liveable, dan Viable.

Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa pembahasan mengenai desain tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai kualitasnya. Desain yang baik dilihat dari kualitas yang dihasilkannya. Bukan hanya desain yang memiliki fungsi, namun lebih dari itu adalah desain yang memiliki makna, nilai tambah, dan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

Iklim dapat didefinisikan sebagai rata-rata cuaca pada suatu rentang waktu tertentu. Iklim dan cuaca sangat penting bagi manusia. Hal ini berkaitan dengan kenyamanan manusia, sehingga perencanaan suatu lanskap perlu mempertimbangkan faktor iklim. Terdapat beberapa fakta mengenai iklim. Pertama, iklim terkait dengan rentang temperatur harian, musiman, dan tahunan. Kedua, rentang temperatur iklim dapat berubah sesuai posisi lintang, bujur, ketinggian, dll. Sebagai fenomena alam, iklim sangat mempengaruhi perilaku manusia bahkan cara hidup manusia tersebut. Pada aplikasinya, perlu penyesuaian antara kehidupan manusia dengan iklim disekitarnya. Salah satu contohnya adalah iklim hangat atau tropis. Pada iklim ini, kondisi berupa suhu tinggi dan relatif konstan, kelembaban tinggi, hujan deras, dan tingginya variasi jenis vegetasi. Desain di lapang harus mampu menyediakan naungan, ventilasi, dan memperhatikan perlindungan dari hujan deras dan limpasan, serta preventif terhadap banjir dan erosi. Terkait bangunan, bangunan harus diselaraskan dengan alam dan dapat memperlihatkan titik penting suatu area.

Mikroklimatologi adalah studi yang mempelajari iklim pada skala yang sempit atau kecil. Studi ini bertujuan untuk menemukan fakta atau prinsip yang dapat diaplikasikan dalam memperbaiki kondisi manusia, sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan manusia. Ketika merencanakan sebuah lingkungan tempat tinggal, ada begitu banyak prinsip dari iklim mikro yang dapat diambil manfaatnya. Prinsip tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal, seperti arah angin, matahari, dll.

Iklim dalam satu dekade terakhir telah menjadi bahan pembicaraan. Perubahan iklim yang diakibatkan oleh aktivitas manusia telah membawa banyak perubahan pada lingkungan, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Sangat sulit untuk bisa mengembalikan kondisi semula, satu-satunya cara yang bisa dilakukan manusia adalah beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Perencana dan perancang dapat berkontribusi dalam usaha mengurangi atau memperlambat proses tersebut dengan salah satunya merancang desain yang berkelanjutan.

Kampung Salapan (sembilan) secara administratif berada di Desa Gempol, Kec. Banyusari, Kabupaten Karawang. Masyarakat sekitar Kampung Salapan lebih mengenal kampung ini dengan sebutan Kampung Babakan Nonclo (timbul). Kampung Salapan ini termasuk kampung yang jauh dari keramaian, terpencil, dan belum terjangkau pasokan listrik (www.mokakarawang.com). Kampung ini memiliki beberapa keunikan, baik dari segi lanskap secara keseluruhan, karakter/bentuk bangunan rumah tinggal, maupun adat tradisi kehidupan sehari-hari yang masih bertahan hingga saat ini.

Secara keseluruhan, lanskap Kampung Salapan ini sesuai namanya hanya terdiri dari sembilan rumah tinggal dan dihuni oleh sembilan keluarga. Kondisi ini akan tetap bertahan dikarenakan terdapat aturan dan kepercayaan pada masyarakat Kampung Salapan yakni, apabila jumlah keluarga melebihi 9 keluarga, maka salah satu keluarga harus keluar dari kampung ini. Jika aturan tersebut dilanggar, maka Kampung Salapan akan mengalami musibah. Penduduk Kampung Salapan (berdasarkan data http://www.mokakarawang.com tahun 2013) berjumlah 27 Orang, terdiri dari 13 Laki-laki dan 14 Perempuan. Jika dilihat dari Usia, penduduk Dewasa berjumlah 20 Orang dan Anak-anak berjumlah 7 orang.

Keunikan lainnya pada Kampung Salapan adalah bentuk rumah yang hampir sama, yaitu berbentuk persegi panjang, terdiri dari ruang tamu dan keluarga yang memanjang ke belakang. Di sebelah kanan atau kiri pada bagian rumah, terdapat kamar-kamar yang memanjang ke belakang, terdiri dari 1 atau 2 kamar tidur dan Goah. Goah merupakan ruang tempat sesaji. Sesaji pada ruang Goah ini biasanya terdiri dari bunga 7 rupa, kemenyan, kelapa muda, dan kopi yang diletakkan di atas pandaringan (tempat penyimpanan beras). Dari ruang keluarga, terdapat pintu masuk menuju kamar mandi dan dapur. Selain itu, di atas pintu pada setiap rumah warga Kampung Salapan selalu tergantung 9 tangkai padi. Hal ini menjadi bagian dari kepercayaan warga Kampung Salapan.

Penduduk Kampung Salapan masih menggunakan adat tradisi di kehidupan sehari-hari. Adat tradisi tersebut antara lain, Upacara Ngabungbang atau Melekan, Upacara Mipit atau Nyalin ketika akan memanen padi, dan pakaian adat sehari-hari Kampung Salapan yang berwarna biru tua (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang 2011). Upacara atau Ritual Ngabungbang atau Melekan adalah kegiatan ritual yang dilakukan oleh warga Kampung Salapan. Kegiatan ini biasanya dilakukan di tempat terbuka dan diisi dengan diskusi antar warga atau memberikan petuah-petuah dari Tokoh Masyarakat Kampung Salapan kepada warganya. Waktu ritual dilakukan pada malam Sabtu dan dilakukan semalam suntuk dengan tidak tidur semalaman. Pada saat-saat tertentu sering muncul cahaya kebiruan yang kemudian dipercaya oleh warga masyarakat Kampung Salapan bahwa akan terjadi sesuatu pada lingkungan mereka atau lingkungan masyarakat sekitar. Upacara lainnya yakni Upacara Mipit atau Nyalin. Upacara Nyalin merupakan rangkaian upacara ritual yang masih dilaksanakan sebagian kecil para petani. Asal kata Nyalin berasal dari kata Salin yang artinya adalah mengganti. Oleh karena itu, upacara ini dilaksanakan ketika tanaman hendak dipanen dan akan diganti dengan tanaman yang baru. Upacara Nyalin ini dilaksanakan satu tahun satu kali dan dilaksanakan secara individu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ketahui secara umum bahwa aspek atau objek pembentuk lanskap Kampung Salapan adalah bangunan rumah tinggal yang hanya berjumlah 9 rumah. Objek lain pembentuk lanskap kampung ini adalah lahan pertanian dengan dominasi berupa persawahan. Hal ini dapat kita ketahui secara tersirat dari adanya Upacara Mipit atau Nyalin yang dilaksanakan pada saat pemanenan dan penggantian padi dan dilakukan oleh sebagian kecil warga kampung yang berprofesi sebagai petani. Selain itu, area terbuka atau lapangan terbuka juga menjadi bagian penunjang lanskap Kampung Salapan. Area terbuka atau lapangan terbuka ini digunakan warga sebagai tempat pelaksanaan ritual Ngabungbang atau Melekan. Dari aspek atau objek pembentuk lanskap yang disebutkan sebelumnya, dapat kita ketahui juga bahwa ada 2 faktor utama yang mempengaruhi pembentukan lanskap Kampung Salapan, yakni Faktor Kepercayaan dan Faktor Budaya (adat-istiadat). Faktor Kepercayaan ini sangat kuat mendominasi dan mempengaruhi keseluruhan lanskap Kampung Salapan. Hal ini cukup jelas terlihat dari jumlah rumah tinggal pada kampung ini yang hanya berjumlah 9 rumah dan hanya boleh dihuni oleh 9 keluarga, yang kemudian apabila dilanggar akan menimbulkan musibah bagi warga kampung ini. Faktor kepercayaan ini juga yang turut mempengaruhi penggunaan sesaji pada upacara adat, penggunaan 9 tangkai padi yang digantung di atas pintu rumah, dan kepercayaan warga tentang akan terjadinya sesuatu pada lingkungan mereka ketika cahaya kebiruan muncul pada saat-saat tertentu. Faktor budaya merupakan faktor utama lainnya yang turut mempengaruhi lanskap dan kehidupan Kampung Salapan. Faktor budaya ini terlihat dari adanya Upacara Ngabungbang atau Melekan dan Upacara Mipit atau Nyalin. Kedua upacara tersebut menjadi bagian budaya dari masyarakat Kampung Salapan.

Peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan kota-kota besar beserta daerah satelitnya telah membawa perubahan dan kelangkaan sumber daya seperti lahan dan lingkungan. Dikarenakan letaknya yang strategis dan berubah menjadi pusat perdagangan dan jasa, lahan di kota-kota besar seperti Jabodetabek menjadi mahal. Terkonsentrasinya penduduk dan aktivitas di kota-kota besar ini menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan seperti kemacetan, polusi udara, dan kebisingan akibat banyaknya kendaraan bermotor dan konflik sosial ekonomi (Santosa NS 2012). Dalam perkembangannya, banyak penduduk yang semula tinggal di kota-kota besar kemudian pindah ke kawasan pinggiran kota dengan pertimbangan mencari lahan yang terjangkau dan lingkungan yang sehat dan aman. Terdapat sebuah kecenderungan yakni peningkatan penduduk di daerah kota metropolitan lebih rendah atau menurun dibandingkan dengan area sekitar. Pada tahun 1990-2000, laju peningkatan penduduk pada kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang relatif rendah, berkisar 0,16-0,90% pada tahun 1990-2000. Sementara laju pertambahan penduduk di daerah sekitarnya relatif tinggi. Kabupaten Bekasi dan Tangerang misalnya, mempunyai laju kenaikan penduduk sebesar 4,13% pada periode yang sama (Santosa NS 2012). Dalam perkembangannya, terjadi alih fungsi lahan dari lahan pertanian produktif dan area resapan air menjadi permukiman dan industri. Yokohari et al. (2000) dalam jurnal Landscape and Urban Planning (73:16-28), juga menyatakan bahwa memang sangat mudah dalam mengubah lahan pertanian menjadi area permukiman di Asia. Hal ini salah satu sebabnya adalah rendahnya tingkat peraturan yang ada dan pengawasan yang minim di lapang. Keberadaan dan peningkatan permukiman yang tidak tertata kemudian semakin meningkatkan kehilangan lahan pertanian di area pinggiran kota (Landscape and Urban Planning 106: 149-157). Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Fitriani dan Harris (2011), bahwa pengembangan aktivitas di pinggiran kota Jakarta didominasi oleh permukiman yang mengambil lahan pertanian.

Lanskap Agroforestri dapat dikategorikan sebagai Agroforestri Sederhana dan Agroforestri Kompleks. Agroforestri Sederhana dalam hal ini dapat berkembang menjadi Agroforestri Kompleks. Tahap terbentuknya Agroforestri Kompleks yaitu dimulai saat pembukaan area hutan menjadi perladangan tanaman semusim, kemudian selanjutnya penanaman perpaduan tanaman semusim dengan pepohonan (Agroforestri Sederhana). Ketika sistem ladang tersebut kemudian ditinggalkan, dan sistem bekas ladang yang ditanami pepohonan kemudian dibiarkan hingga pohon membesar (termasuk bambu) dengan aneka tanaman di bawahnya, termasuk umbi-umbian, pisang, maka selanjutnya terbentuk sistem Talun (forest garden). Talun ini umumnya berada jauh dari perkampungan, berada pada lereng curam dengan tingkat pengelolaan ekstensif. Jika dikelola agak intensif dengan aneka jenis tegakan pohon dan tanaman lainnya yang bernilai ekonomis, serta berada di dekat bahkan di tengah perkampungan, maka disebut kebun campuran (mixed gardens). Ketika kemudian pada sistem tersebut didalamnya dibangun sebuah rumah atau bangunan rumah tinggal, maka pertanaman yang ada di sekitar rumah dan bangunan rumah tinggal tersebut dinamakan sebagai pekarangan (homestead garden). Baik Talun (forest garden), kebun campuran (mixed gardens), dan pekarangan (homestead garden) merupakan bagian dari Agroforestri Kompleks. Dapat diketahui bahwa pada Agroforestri Kompleks, terdapat dinamika spasial baik dari kuantitas luas pertanaman maupun pada kuantitas jenis tanaman yang ditanam. Pada Agroforestri Kompleks, spasial luas pertanaman meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman dan pepohonan. Hal ini kemudian diikuti pula dengan peningkatan kuantitas dari jenis tanaman.

Sebaliknya, suatu Agroforestri Kompleks dapat menjadi atau kembali menjadi Agroforestri sederhana ketika Agroforestri Kompleks tersebut dibersihkan dan diolah kembali menjadi suatu sistem perladangan dan pertanaman dengan perpaduan tanaman semusim dan pepohonan. Dari sisi dinamika spasial, perubahan ini tentu menunjukkan berkurangnya kuantitas luas pertanaman dan jenis tanaman yang ditanam.