Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,38 % (BPS 2017). Artinya, kurang lebih 3,5 juta penduduk baru hadir setiap tahunnya dari jumlah penduduk berkisar 257 juta jiwa (top four in the world). Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya tentu berpengaruh terhadap kebutuhan akan lahan. Semakin meningkatnya populasi penduduk akan berpengaruh pada semakin meningkatnya perubahan lahan untuk mendukung kebutuhan dan aktivitas manusia (Nasihin et al. 2016).  Dan dengan semakin berkembangnya zaman, kebutuhan lahan tidak lagi sekadar kebutuhan akan lahan tempat tinggal, tetapi juga untuk industri, area komersil, dan sebagainya. Kebutuhan akan lahan tersebut pada akhirnya akan mengubah bentuk tutupan dan penggunaan lahan, yang sering kita sebut sebagai perubahan lahan.

Perubahan lahan sebagai konsekuensi dari peningkatan kebutuhan akan ruang, memiliki berbagai bentuk. Namun, umumnya yang menjadi sorotan adalah perubahan dari bentukan alami menjadi buatan. Hal ini dikarenakan terdapat dampak lingkungan yang menyertainya. Contohnya adalah deforestasi, yang mengubah bentukan hutan menjadi area pertanian atau perkotaan. Perubahan secara wilayah kita kenal dengan urbanisasi, dari rural area menjadi sub-urban dan kemudian menjadi urban area.

Penyebab perubahan lahan secara umum selain peningkatan jumlah penduduk adalah perkembangan ekonomi dan teknologi. Hal-hal tersebut merupakan penyebab perubahan lahan secara umum yang ditemui di berbagai kasus di dunia. Perkembangan ekonomi dapat dilihat secara sederhana dari meningkatnya daya beli masyarakat. Meningkatnya daya beli ini direspon dengan meningkatnya sarana, prasarana, serta hal-hal yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini kemudian perlahan memunculkan area-area ekonomi baru yang sering kita sebut sebagai CBD (Central business district) area. Dengan meningkatnya daya beli masyarakat, maka sektor-sektor pembangunan infrastruktur juga akan meningkat, salah satunya sektor property baik bangunan komersil maupun landed houses, yang tidak jarang mengambil area hutan, perkebunan, dan pertanian untuk diubah menjadi area perumahan, dan lain-lain. Perkembangan teknologi juga turut mendukung perkembangan ekonomi. Dengan semakin berkembangnya teknologi, maka manusia semakin menemukan cara termudah, efektif, dan efisien dalam melakukan sesuatu. Hal-hal yang dahulu sulit dilakukan seperti membuka area hutan, sekarang menjadi begitu mudahnya dengan teknologi, sehingga perubahan lahan semakin mudah dan sering terjadi.

Berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap perubahan lahan, terdapat beberapa penyebab umum perubahan lahan, yakni keberadaan jalan, CBD, Area terbangun, dan kemiringan lahan. Aksesibilitas berupa jalan secara umum berfungsi menghubungkan antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Debolini et al. (2015) menjelaskan bahwa bentukan topografi seperti akses jalan utama dapat berpengaruh dalam peningkatan urbanisasi. Area CBD memiliki nilai signifikan sebagai penyebab perubahan lahan dikarenakan memiliki daya tarik ekonomi, sehingga area CBD menjadi area yang sangat strategis dari sisi sosial-ekonomi. Tidak terkecuali dengan nilai jual lahan, semakin dekat suatu lahan dengan area CBD maka semakin tinggi nilai jual lahan tersebut. Area-area hutan, perkebunan, dan pertanian yang berdekatan dengan area CBD ini tentu akan memiliki peluang perubahan yang semakin besar. Selain area perekonomian secara fisik, sistem politik dan perkembangan perekonomian juga berpengaruh dalam perubahan struktur suatu lanskap (Fonji dan Taff 2014). Area terbangun merupakan area yang sangat berkaitan dengan pembangunan fisik/ infrastruktur yang dilakukan oleh manusia. Pembangunan permukiman, perumahan, bangunan komersial, industri, dan infrastruktur fisik jalan merupakan beberapa contoh dari area terbangun. Area terbangun juga sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk. Kecenderungan pertumbuhan penduduk yang bertempat tinggal terpusat di area perkotaan menyebabkan terjadinya pertambahan jumlah bangunan fisik. Hasil studi penulis menyebutkan bahwa keberadaan area terbangun ini dapat mempengaruhi area sekitarnya, termasuk merubah tutupan dan penggunaan lahan. Tidak terkecuali hutan dan area pertanian serta perkebunan. Kemiringan lahan juga merupakan penyebab perubahan lahan. Area dengan kemiringan rendah atau berada pada area yang datar cenderung memiliki tingkat perubahan yang sangat tinggi. Area ini merupakan kriteria yang sangat sesuai sebagai area perumahan dan area komersil, sehingga area alami dan hijau seperti hutan akan lebih mudah mengalami perubahan di dataran rendah dibanding dataran tinggi.

Perubahan-perubahan lahan di atas beserta penyebabnya telah membawa dampak buruk bagi lingkungan, sosial, dan budaya masyarakat. Bagi lingkungan, perubahan lahan tentu memberikan dampak yang signifikan. Perubahan area hutan menjadi permukiman tentu akan menghilangkan atau mengancam ekosistem alam terutama habitat hewan. Bukan tidak mungkin hewan yang terganggu habitat dan area mencari makannya akan mengganggu kehidupan masyarakat. Sebagaimana yang sering kita lihat di berita, beberapa hewan seperti gajah, kera dan lainnya yang kemudian masuk ke permukiman warga untuk mencari makan. Rusaknya ekosistem juga dapat menimbulkan bencana alam. Deforestasi hutan di area Puncak Bogor misalnya telah berdampak pada menurunnya tingkat serapan air sehingga lebih banyak air yang dilepas daripada dipegang atau diikat oleh tanah. Hal ini diperparah dengan berkurangnya area ruang terbuka hijau dan area green belt di sepanjang sempadan sungai (bagian hilir) sehingga area serapan air berkurang yang pada akhirnya mengakibatkan banjir. Perubahan lahan menjadi area permukiman yang kemudian berkembang menjadi sebuah proses urbanisasi, tentu memiliki dampak lingkungan lainnya, seperti peningkatan polusi baik melalui asap kendaraan, maupun dari berkembangnya area industri. Perubahan lahan dari hutan ke pertanian, permukiman, kemudian berkembang menjadi sebuah proses urbanisasi, tentu juga berdampak pada sosial dan budaya masyarakatnya. Hal ini kemudian dapat merubah cara pandang masyarakat dalam mengelola lahan dan lingkungan sekitar.

Terkait dampak perubahan lahan, saat sekarang ini terdapat banyak contoh/fakta nyata yang bisa kita temukan. Lahan pertanian padi sawah yang produktif di Kabupaten Karawang sebagai salah satu lumbung pangan nasional telah mengalami perubahan sebanyak 17,8% dalam kurun waktu 20 tahun. Sebanyak 56 % dari perubahan tersebut merupakan perubahan padi sawah ke area terbangun (Franjaya 2017). Area hutan juga terancam dengan berkembangnya area industri di kabupaten ini. Fakta lainnya adalah pembangunan area bandara internasional di Tasikmalaya Jawa Barat. Diketahui bahwa lebih dari 90% area pembangunan bandara ini merupakan area pertanian produktif di kabupaten Tasikmalaya. Hal yang kemudian menjadi sorotan adalah perubahan ini dikhawatirkan mengubah sosial budaya masyarakat petani lokal, karena kebijakan yang diambil pemerintah adalah memberikan uang sebagai kompensasi, bukan area pengembangan pertanian baru. Tentu masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan dampak perubahan lahan pada lingkungan dan sosial budaya masyarakat.

Permasalahan perubahan lahan mulai dari penyebab dan dampak sebagaimana yang dijelaskan diatas pada akhirnya membutuhkan solusi. Solusi yang diberikan dapat berupa rekomendasi kebijakan sampai pada rencana aksi penanggulangan. Namun, untuk mencapai hal tersebut, perlu dasar referensi yang jelas dan didapat dari hasil studi sebelumnya. Oleh karena itu, studi tentang perubahan lahan akan sangat diperlukan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan pengembangan wilayah, yang tetap mendukung lingkungan hidup. Pemerintah dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian maupun institusi pendidikan setara universitas untuk melakukan penelitian yang komprehensif. Tentu permasalahan perubahan lahan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga rekomendasi yang diberikan juga akan menyentuh banyak sektor seperti lingkungan, pengembangan wilayah, perencanaan transportasi beserta infrastrukturnya, ekonomi, dan pengembangan sosial kemasyarakatan. Dengan banyaknya bidang yang disentuh, tentu diharapkan dapat menciptakan sebuah perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan wilayah yang terintegrasi satu sama lain.

Pustaka pendukung:

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2017. Tabel laju pertumbuhan penduduk [internet]. [diunduh 2017 Mei 16]. Jakarta (ID): BPS. Tersedia pada: http://www.bps.go.id

Debolini et al. 2015. Mapping land use competition in the rural-urban fringe and future perspectives on land policies: A case study of Meknes (Morocco). Land Use Policy 47 (2015) 373-381.

Fonji SF and Taff GN. 2014. Using satellite data to monitor land-use land-cover change in North-eastern Latvia. Springer Plus (2014) 3:61.

Franjaya EE, Syartinilia, Y Setiawan. 2017. Monitoring of landscape change in paddy fields: Case study of Karawang District – West Java Province. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 54 (2017) 012016 doi:10.1088/1755-1315/54/1/012016

Nasihin et al. 2016. Land cover change in Kuningan District during 1994-2015. Procedia Environmental Sciences 33 (2016) 428-435.

Advertisements