Kampung Salapan (sembilan) secara administratif berada di Desa Gempol, Kec. Banyusari, Kabupaten Karawang. Masyarakat sekitar Kampung Salapan lebih mengenal kampung ini dengan sebutan Kampung Babakan Nonclo (timbul). Kampung Salapan ini termasuk kampung yang jauh dari keramaian, terpencil, dan belum terjangkau pasokan listrik (www.mokakarawang.com). Kampung ini memiliki beberapa keunikan, baik dari segi lanskap secara keseluruhan, karakter/bentuk bangunan rumah tinggal, maupun adat tradisi kehidupan sehari-hari yang masih bertahan hingga saat ini.

Secara keseluruhan, lanskap Kampung Salapan ini sesuai namanya hanya terdiri dari sembilan rumah tinggal dan dihuni oleh sembilan keluarga. Kondisi ini akan tetap bertahan dikarenakan terdapat aturan dan kepercayaan pada masyarakat Kampung Salapan yakni, apabila jumlah keluarga melebihi 9 keluarga, maka salah satu keluarga harus keluar dari kampung ini. Jika aturan tersebut dilanggar, maka Kampung Salapan akan mengalami musibah. Penduduk Kampung Salapan (berdasarkan data http://www.mokakarawang.com tahun 2013) berjumlah 27 Orang, terdiri dari 13 Laki-laki dan 14 Perempuan. Jika dilihat dari Usia, penduduk Dewasa berjumlah 20 Orang dan Anak-anak berjumlah 7 orang.

Keunikan lainnya pada Kampung Salapan adalah bentuk rumah yang hampir sama, yaitu berbentuk persegi panjang, terdiri dari ruang tamu dan keluarga yang memanjang ke belakang. Di sebelah kanan atau kiri pada bagian rumah, terdapat kamar-kamar yang memanjang ke belakang, terdiri dari 1 atau 2 kamar tidur dan Goah. Goah merupakan ruang tempat sesaji. Sesaji pada ruang Goah ini biasanya terdiri dari bunga 7 rupa, kemenyan, kelapa muda, dan kopi yang diletakkan di atas pandaringan (tempat penyimpanan beras). Dari ruang keluarga, terdapat pintu masuk menuju kamar mandi dan dapur. Selain itu, di atas pintu pada setiap rumah warga Kampung Salapan selalu tergantung 9 tangkai padi. Hal ini menjadi bagian dari kepercayaan warga Kampung Salapan.

Penduduk Kampung Salapan masih menggunakan adat tradisi di kehidupan sehari-hari. Adat tradisi tersebut antara lain, Upacara Ngabungbang atau Melekan, Upacara Mipit atau Nyalin ketika akan memanen padi, dan pakaian adat sehari-hari Kampung Salapan yang berwarna biru tua (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang 2011). Upacara atau Ritual Ngabungbang atau Melekan adalah kegiatan ritual yang dilakukan oleh warga Kampung Salapan. Kegiatan ini biasanya dilakukan di tempat terbuka dan diisi dengan diskusi antar warga atau memberikan petuah-petuah dari Tokoh Masyarakat Kampung Salapan kepada warganya. Waktu ritual dilakukan pada malam Sabtu dan dilakukan semalam suntuk dengan tidak tidur semalaman. Pada saat-saat tertentu sering muncul cahaya kebiruan yang kemudian dipercaya oleh warga masyarakat Kampung Salapan bahwa akan terjadi sesuatu pada lingkungan mereka atau lingkungan masyarakat sekitar. Upacara lainnya yakni Upacara Mipit atau Nyalin. Upacara Nyalin merupakan rangkaian upacara ritual yang masih dilaksanakan sebagian kecil para petani. Asal kata Nyalin berasal dari kata Salin yang artinya adalah mengganti. Oleh karena itu, upacara ini dilaksanakan ketika tanaman hendak dipanen dan akan diganti dengan tanaman yang baru. Upacara Nyalin ini dilaksanakan satu tahun satu kali dan dilaksanakan secara individu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ketahui secara umum bahwa aspek atau objek pembentuk lanskap Kampung Salapan adalah bangunan rumah tinggal yang hanya berjumlah 9 rumah. Objek lain pembentuk lanskap kampung ini adalah lahan pertanian dengan dominasi berupa persawahan. Hal ini dapat kita ketahui secara tersirat dari adanya Upacara Mipit atau Nyalin yang dilaksanakan pada saat pemanenan dan penggantian padi dan dilakukan oleh sebagian kecil warga kampung yang berprofesi sebagai petani. Selain itu, area terbuka atau lapangan terbuka juga menjadi bagian penunjang lanskap Kampung Salapan. Area terbuka atau lapangan terbuka ini digunakan warga sebagai tempat pelaksanaan ritual Ngabungbang atau Melekan. Dari aspek atau objek pembentuk lanskap yang disebutkan sebelumnya, dapat kita ketahui juga bahwa ada 2 faktor utama yang mempengaruhi pembentukan lanskap Kampung Salapan, yakni Faktor Kepercayaan dan Faktor Budaya (adat-istiadat). Faktor Kepercayaan ini sangat kuat mendominasi dan mempengaruhi keseluruhan lanskap Kampung Salapan. Hal ini cukup jelas terlihat dari jumlah rumah tinggal pada kampung ini yang hanya berjumlah 9 rumah dan hanya boleh dihuni oleh 9 keluarga, yang kemudian apabila dilanggar akan menimbulkan musibah bagi warga kampung ini. Faktor kepercayaan ini juga yang turut mempengaruhi penggunaan sesaji pada upacara adat, penggunaan 9 tangkai padi yang digantung di atas pintu rumah, dan kepercayaan warga tentang akan terjadinya sesuatu pada lingkungan mereka ketika cahaya kebiruan muncul pada saat-saat tertentu. Faktor budaya merupakan faktor utama lainnya yang turut mempengaruhi lanskap dan kehidupan Kampung Salapan. Faktor budaya ini terlihat dari adanya Upacara Ngabungbang atau Melekan dan Upacara Mipit atau Nyalin. Kedua upacara tersebut menjadi bagian budaya dari masyarakat Kampung Salapan.