Qingtian merupakan wilayah (kabupaten) bagian tenggara dari Provinsi Zhejiang. Hampir 90 % dari total area di wilayah ini merupakan area pegunungan dan perbukitan. Wilayah Qingtian beriklim subtropis dengan curah hujan cukup berlimpah. Kondisi ini cukup mendukung perkembangan sistem pertanian dengan metode Mina Padi.
Sistem Mina Padi di wilayah qingtian ini telah dimulai sejak 1200 tahun yang lalu, ketika warga lokal wilayah ini mulai memelihara ikan di area persawahan. Sistem atau budaya pertanian ini pun berkembang hingga saat ini setelah warga terutama para petani merasakan begitu banyak perubahan positif pada kehidupan mereka. Sebagaimana pemerintah dan komunitas lokal, para petani pun mulai memahami nilai biodiversitas. Pemerintah dalam hal ini membantu dalam mengelola dan menjaga lingkungan hidup. Bahkan, setelah kedatangan GIAHS, warga menjadi semakin sadar begitu pentingnya praktik pertanian tradisional mereka, yang pada masa sebelumnya, warga tidak begitu memperdulikan tentang hal ini. Hal yang lebih penting lagi adalah mengenai keamanan pangan. Pangan yang dihasilkan dari mina padi ini merupakan pangan yang sehat karena pada proses pertaniannya tidak menggunakan masukan eksternal seperti bahan kimia pupuk dan pestisida. Pangan yang dihasilkan yang kemudian dikenal dengan pangan organik, dijual oleh para petani. Harga pangan organik ini pun lebih tinggi dibandingkan dengan pangan non-organik. Implikasi positifnya adalah pendapatan para petani meningkat drastis. Hal ini pun disadari oleh pemerintah wilayah Qingtian. Pemerintah kemudian meningkatkan sistem pengelolaan irigasi pertanian, mengembangkan jalan desa untuk kepentingan pengangkutan hasil pertanian, dan mengembangkan pelayanan sosial.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Indonesia. Sistem mina padi telah dikenal cukup lama. Pada tahun 1990-an, perkembangan budidaya ikan bersama padi ini belum begitu menggembirakan, walaupun pelaksanaannya mudah dan hasilnya cukup menguntungkan. Dari seluruh luas sawah di Indonesia pada saat itu, ada 4.200.000 ha yang dianggap cocok sebagai lahan minapadi. Namun, kurang dari 5% yang telah digunakan sebagai area mina padi. Pemerintah pun mulai menggalakkan program ini sebagai upaya pengembangan mina padi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hasilnya, beberapa pemerintah daerah di Indonesia turut mengaplikasikan program ini.

Perbedaan sistem mina padi di China (dalam hal ini provinsi Qingtian) dan di Indonesia pada dasarnya terletak dari penggunaan jenis ikan dan jenis penggunaan mina padi. Di Indonesia, ikan yang digunakan lebih bervariatif, terutama ikan mas, nila, mujair, karper, tawes, dan lain-lain. Sedangkan penggunaan mina padi, di Indonesia mengenal tiga jenis, yaitu penggunaan sebagai penyelang, bersama padi, dan sebagai palawija. Sebagai penyelang, pemeliharaan dilakukan diantara dua masa tanam padi. Hal ini dilakukan ketika tanah telah diolah dan diberi air. Lamanya pemeliharaan biasanya satu bulan, sampai pada saat benih padi siap untuk ditanam. Bersama padi, maksudnya pemeliharaan ikan dilakukan bersama dengan tanaman padi. Penggunaan yang terakhir yaitu sebagai palawija. Pemeliharaan sistem ini dilakukan sebagai pengganti tanaman palawija dalam pola pergiliran tanaman padi. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kesuburan tanah. Biasanya, penggunaan sistem ini dilakukan setelah dua kali masa tanam berturut-turut.

Secara keseluruhan, baik sistem mina padi di China maupun di Indonesia memberikan dampak positif pada kesejahteraan petani. Bahkan, pemerintah kedua negara sangat mendukung pengembangan sistem mina padi ini. Selain membantu peningkatan pendapatan petani, sistem mina padi ini dapat meningkatkan daya guna lahan, sehingga dengan luas lahan yang sama, produksi masih dapat ditingkatkan.