Pembahasan mengenai lingkungan menjadi pembahasan yang sangat intensif dibicarakan akhir-akhir ini. Lingkungan dengan beragam permasalahannya telah menjadi fakta nyata dalam kehidupan manusia. Permasalahan lingkungan ini seringkali muncul seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pengangguran, dan kemajuan teknologi. Permasalahan berkurangnya sumberdaya air dan biologi secara kualitas dan kuantitas, keterbatasan lahan, bahkan banjir, juga turut berkontribusi terhadap menurunnya kualitas lingkungan. Pada masyarakat pertanian-pun kita dapat menjumpai bagaimana para petani kemudian mengembangkan pertanian monokultur dan konvensional sebagai pilihan pengusahaan pertanian mereka. Pertanian jenis ini yang kemudian pada praktek di lapangnya memegang prinsip HEIA (High External Input Agriculture) pada akhirnya juga berkontribusi terhadap pencemaran dan menurunnya kualitas lingkungan.

Agroforestri dalam hal ini kemudian hadir memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan tersebut diatas. Agroforestri melalui pengusahaannya dapat menyerap tenaga kerja dan menjadi bagian dari lapangan pekerjaan bagi manusia. Agroforestri melalui mekanisme biologisnya kemudian dapat juga menjaga sumberdaya air dan biologi secara berkelanjutan, dapat menjadi area serapan air, menjadi jawaban terhadap terbatasnya lahan untuk sebuah pengusahaan pertanian, dan melalui mekanisme keterpaduannya, agroforestri dapat menjadi solusi pengusahaan pertanian yang berkelanjutan. Secara lebih luas, keberadaan lanskap agroforestri dapat menjadi model pengelolaan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan. Seimbang dan berkelanjutan dari sisi kemanusiaan dan lingkungan. Oleh karena itu, kemudian lanskap agroforestri ini sering dimaknai sebagai jalan keluar yang sifatnya win-win solution (WWS).